Search News

Market Outlook 2H 2010

Senin, 12 Juli 2010 | 13:53

Sisa satu semester 2010 yang akan datang menimbulkan tanda tanya bagi pelaku pasar. Krisis hutang pemerintah di Eropa, melambatnya pertumbuhan di Cina, perubahan kebijakan moneter dan tingginya volatilitas di pasar akan menjadi pertimbangan penting untuk merencanakan strategi berinvestasi.

IHSG menjadi indeks yang mengalami kenaikan yang tertinggi dibanding indeks negara lain ditengah kondisi meningkatnya risiko pasar yang terjadi.

Semakin besarnya perbedaan pergerakan IHSG dengan bursa-bursa lainnya ditengah kondisi seperti saat ini membuat down-side risk semakin besar pula.

Investor harus mewaspadai kemungkinan koreksi yang terjadi pada harga-harga saham dengan lebih memilih perusahaan yang memiliki pangsa pasar domestik yang besar dan ketergantungan dengan kondisi perekonomian luar negeri yang rendah.

Kami merekomendasikan overweight saham-saham consumer good, automotive, dan banking.



Kekhawatiran akan kelanjutan pemulihan ekonomi meningkat

Risiko gagal bayar hutang di Eropa meningkat ketika rasio Hutang/GDP semakin besar.

Tingginya Hutang dan defisit yang dialami negara-negara Eropa, Jepang dan AS membuat pendanaan pembangunan ekonomi dari hutang terbatas dan ditambah lagi efisiensi yang akan dilakukan untuk menutupi defisit anggarannya.

Beberapa indikator perekonomian menunjukkan pemulihan, namun angka pengangguran masih tinggi di AS.

Cina yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi Dunia sedang memasuki tahap cooling down. Terlihat dari Penurunan Industrial Production sejak awal tahun 2010. 

Harga Emas naik dan Yield Obligasi 10yr AS berada dibawah 3% menandakan kebutuhan keamanan (flight to quality) meningkat.



Bagaimana dengan kelanjutan rally IHSG ?

Membaiknya Rating dan tingginya Yield di Indonesia menarik bagi aliran dana asing.

Besarnya porsi consumer spending terbukti menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif ditengah krisis ekonomi global.

Saham-saham sektor consumer, manufacturing dan banking menjadi penopang kenaikan IHSG.

Lesunya perekonomian global membuat sektor yang berorientasi ekspor terutama komoditas mengalami negative relative performance.

Harga Emas naik dan Yield Obligasi 10yr AS berada dibawah 3% menandakan kebutuhan keamanan (flight to quality) meningkat.


Strategi pemilihan saham
Saham yang menjadi pilihan di 2010 menurut kriteria kami adalah emiten yang memiliki kinerja keuangan yang baik seperti ROE yang tinggi, memiliki dividen yang besar, merupakan market leader di sektornya , pertumbuhan pendapatan yang baik, memiliki kapitalisasi pasar yang besar, dan memiliki orientasi bisnis lebih ke domestik.

Kekhawatiran mengenai membengkaknya hutang di Eropa meningkat sejak pertama kali diberitakannya gagal bayar perusahaan raksasa property yaitu Dubai World pada akhir Nopember 2009.

Yang menjadi negara Eropa yang terancam gagal bayar hutang luar negeri pertama kalinya adalah Yunani.

Setelah itu beberapa negara Eropa yang skala ekonominya lebih besar dari Yunani turut juga mengalami masalah pembayaran hutang luar negerinya seperti Portugal, Italia dan Spanyol.

Jika suatu negara mengalami gagal bayar hutang luar negerinya maka dampaknya akan menjalar ke negara-negara lainnya (counterparty risk). Meningkatnya kekhawatiran ini menyebabkan likuiditas di Eropa mengalami pengetatan yang dilihat dari kenaikan tajam Libor USD 3 month dari awal 2010 sekitar 0,25% sampai saat ini sebesar 0,53%

Besarnya defisit yang dialami negara-negara di Eropa memperlambat proses pemulihan perekonomiaan saat ini. Defisit negara-negara di Eropa jauh diatas aturan EU yaitu 3%. Defisit akan memaksa negara-negara tersebut memangkas pengeluarannya dan akan menaikkan tarif pajak atau menambah jenis-jenis pajaknya.

Sementara dalam kondisi perekonomian yang lesu seharusnya pemerintah merangsang pertumbuhan ekonomi dengan belanja yang lebih besar dan menurunkan pajak. Jika pemerintah di Eropa benar-benar melakukan penghematan belanja maka perekonomian diperkirakan akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk bisa pulih.

Saat ini bukan hanya Eropa saja yang akan melakukan pemangkasan belanja, namun negara-negara anggota G-20 sepertinya akan melakukan hal yang sama. Namun, Indonesia yang merupakan salah satu anggota G-20 masih belum akan melakukan penghematan karena defisitnya masih kecil sekitar 2,2% dari GDP.

Saat ini di AS beberapa indikator ekonomi mengindikasikan adanya perbaikan ekonomi. GDP AS pertumbuhannya meningkat tajam dari terendah -3,8% di Q3 2009 menjadi 2,4% di Q2 2010. Namun roda perekonomian masih berputar sangat lambat dilihat dari velocity of money AS yang masih rendah bahkan terendah sejak 20 tahun terakhir.

Pelaku ekonomi di AS masih belum berani membelanjakan uangnya dan lebih memilih menyimpan uangnya karena kekhawatiran akan memburuknya perekonomian di masa yang akan datang  masih tinggi. Akan sulit perekonomian pulih jika velocity of money tetap rendah.

Indikator ekonomi yang sangat penting lainnya adalah ISM Manufacturing Survey. Indikator ini menandakan aktivitas manajer bagian pembelanjaan di perusahaan manufaktur AS yang mewakili 20 industri yang berbeda.

Besarnya jumlah pembelian atau pengadaan supply di pabrik akan sensitif terhadap prospek perekonomian kedepannya. Jika permintaan mulai naik maka pembelian persediaan pabrik akan segera diperbanyak.

ISM Manufacturing AS terus membaik dari awal 2009 sampai dengan April 2010, namun dari April sampai Juni 2010 mengalami penurunan.

Hal yang perlu diwaspadai adalah jika ISM Manufacturing berada di bawah 50, yang artinya manufacturing memasuki fase kontraksi meskipun perekonomian masih bertumbuh. 

Pertumbuhan ekonomi Cina dikhawatirkan akan mengalami perlambatan di 2011. Peranan China dalam perekonomian dunia saat ini sangatlah penting, sehingga kekhawatiran investor akan meningkat jika perekonomian Cina melambat.

Pemerintah Cina mulai memperketat kebijakan moneternya dengan cara menaikkan cadangan minimum bank di Cina menjadi 16,5%.

Hal ini dilakukan untuk mencegah overheating pertumbuhan Cina dan menahan inflasi. Jika Cina menurunkan pertumbuhannya maka dampaknya akan besar terhadap proses pemulihan ekonomi global.

Karena salah satu cara mengatasi masalah lesunya perekonomian adalah dengan meningkatkan perdagangan internasional. Hal lain di Cina yang dicemaskan adalah runtuhnya sektor properti di Cina yang akan menghantam sistem perbankan Cina.

Indeks Harga Properti Cina berada pada level tertinggi dari 5 tahun terakhir ini. Kondisi ini sangat rentan terjadinya anjloknya harga properti disusul dengan bankrutnya bank-bank yang mendanai kredit properti, dan akhirnya merambat ke sektor-sektor lainnya. 

Permasalahan defisit negara-negara di Eropa, Jepang dan AS, melambatnya pertumbuhan ekonomi di Cina dan meningkatnya volatilitas di pasar modal menyebabkan kebutuhan akan instrumen investasi yang lebih aman meningkat.

Hal ini terlihat dari trend kenaikan harga emas dan menurunnya yield obligasi pemerintah AS 10 tahun. Harga emas saat ini $1190 per troy once mengalami kenaikan 28% dari harga tahun lalu, sementara yield obligasi pemerintah AS turun tajam menjadi 2,92%.

Rendahnya Yield Obligasi di AS dapat berdampak positif bagi aliran dana ke Indonesia. Dengan kondisi makro ekonomi yang membaik, rating hutang luar negeri yang membaik dan yield obligasi lebih tinggi dari negara-negara lain maka daya tarik Indonesia sebagai tempat berinvestasi akan semakin besar.    

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mencapai 6%. Yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi masih berasal dari belanja masyarakat yang memberikan kontribusi lebih dari 60% GDP.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berita harian Bisnis Indonesi tanggal 18 Juli 2010 bahwa sampai dengan Mei 2010 belanja kebutuhan sehari-hari masyarakat pertumbuhannya sudah mencapai 9% dibanding tahun lalu.

Meskipun akan terjadi kenaikan TDL di 2010, namun diperkirakan pola konsumsi masyarakat tidak berubah. Dari net ekspor dan investasi diperkirakan masih belum banyak berubah di 2010.

Lesunya perekonomian Global menjadi penyebab pertumbuhan dari ekspor dan investasi masih belum bisa memmberikan kontribusi banyak untuk pertumbuhan ekonomi.  

Peringkat Rating Hutang Luar Negeri Indonesia yang naik menyebabkan aliran modal asing masuk mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari porsi kepemilikan Aing di SUN meningkat di Juni menjadi 26,1%, demikian pula dengan saham dimana IHSG menjadi bursa dengan pertumbuhan terbaik di dunia.

Kondisi ini membawa obligasi dan saham-saham di Indonesia pada harga premium.

Kenaikan harga ini patut diwaspadai karena harga saham saat ini tidak sepenuhnya didukung oleh peningkatan kinerja fundamental emiten-emiten.

Tidak banyaknya pilihan negara-negara yang masih memiliki pertumbuhan, yield investasi yang tinggi dan kondisi ekonomi yang relatif lebih kebal dari krisis global membuat membawa Indonesia menjadi tujuan utama investasi asing.

Terbukti bahwa sektor consumer memberikan relative return yang paling tinggi diantara sektor lainnya. Kinerja fundamental emiten yang ada di sektor ini sangat kebal terhadap lesunya perekonomian global.

Bahkan penurunan harga CPO akibat lesunya perekonomian berdampak positif bagi emiten yang terdapat di sektor consumer seperi UNVR.

Penurunan harga CPO akan menurunkan biaya bahan baku dimana UNVR hampir 80% produknya menggunakan bahan baku berasal dari CPO.

Sementara penurunan harga komoditas tambang dan CPO di pasar Internasional membuat relative performance sektor pertambangan dan Perkebunan jauh dibawah kinerja IHSG masing-masing sebesar -12,3% dan -21,7%.

Sektor infrastruktur yang sebagian besar terdiri dari emiten telekomunikasi kinerjanya juga masih dibawah IHSG yaitu -20,6%.

Hal ini disebabkan sektor telekomunikasi saat ini memasuki fase konsolidasi dimana perang tarif dan banyaknya operator membuat kinerja fundamental emiten tidak bertumbuh besar. 


Saham-saham Pilihan

Kami masih melihat ada ruang untuk IHSG naik sampai ke level 3111 sampai akhir 2010.

Pertumbuhan ekonomi yang solid, rating Indonesia semakin baik, dan yield masih tinggi dibanding negara lain menjadi faktor pendorong kenaikan IHSG di 2010.

Saham-saham yang menjadi pilihan di semester II 2010 menurut kriteria kami adalah emiten yang memiliki kinerja keuangan yang baik seperti ROE yang tinggi, memiliki dividen yield yang tinggi, merupakan market leader di sektornya, memiliki kapitalisasi pasat besar, dan lebih berorientasi pada pasar domestik seperti sektor consumer good, automotive, dan banking. 


Perkiraan IHSG 2010

IHSG di 2010 diperkirakan berada di level 3111 atau naik sekitar 22,7% YoY atau naik sebesar 5,7% dari posisi saat ini.

Perkiraan kenaikan IHSG ini dihitung dengan menyesuaikan antara akumulasi pertumbuhan nominal GDP Indonesia sejak 1999 sampai dengan 2010 ditambah dengan rata-rata standard deviasi posisi IHSG dengan IHSG yang sesuai dengan pertumbuhan nominal IHSG.

Kami memperkirakan pertumbuhan GDP dan arus dana masuk yang meningkat di 2010 akan menyokong pergerakan IHSG.

A
A
A

IDX CHART

LOGIN

Username
Password

verisign

QUOTE

WORLD INDEX

  Index %
Dow10,320.10+0.49%
Nasdaq2,200.010.00%
S&P 5001,090.100.00%
10 Yr Bond(%)2.6280%
Oil74.71-0.41%
Gold1,251.500.00%
FTSE 1005,397.65+0.50%
DAX6,112.74+0.47%
CAC 403,652.33+0.58%
Nikkei 2259,114.13+0.57%
Hang Seng20,971.50+0.49%
Straits Times3,002.56+0.53%
2010-09-03 16:51:16

IDX INDEX

  Index Point
AGRI
1,771.70
12.69
BASIC-IND
367.55
5.51
CONSUMER
1,074.43
39.67
INFRASTRUCE
765.74
4.16
FINANCE
401.91
4.53
MANUFACTURE
782.48
16.19
MINING
2,290.75
24.18
MISC-IND
882.45
3.81
PROPERTY
168.97
0.08
TRADE
333.50
7.25
DBX
406.82
4.99
MBX
918.61
12.34
KOMPAS100
751.08
10.01
LQ45
597.92
8.15
JII
487.64
4.02
BISNIS-27
292.68
3.87
PEFINDO25
257.77
0.13
SRI-KEHATI
178.73
1.70
COMPOSITE
3,164.28
42.13
2010-09-03 16:55:01

TOP 5

  Freq Price %
BHIT9,03311814.56
PGAS6,0353,800-2.56
ADRO4,9241,8402.79
BTON2,387300-1.64
BJBR2,3081,3401.52
2010-09-03 16:55:02
  Price Gain %
AMRT1,16022023.40
IMAS7,1001,15019.33
EMTK89013017.11
SCMA2,70035014.89
BHIT1181514.56
2010-09-03 16:55:02
  Price Loss %
OCAP400-60-13.04
INDR620-80-11.43
BACA76-9-10.59
INRU475-55-10.38
GTBO56-6-9.68
2010-09-03 16:55:01

EXCHANGE RATE

  Jual Beli
 USD 9080.00  8930.00 
 SGD 6751.50  6616.50 
 HKD 1169.10  1147.80 
 CHF 8968.05  8793.05 
 GBP14010.05 13726.05 
 AUD 8282.65  8110.65 
 JPY 108.17  105.36 
 SEK 1261.20  1229.60 
 DKK 1577.45  1534.55 
 CAD 8631.05  8445.05 
 EUR11669.80 11449.80 
 SAR 2430.60  2371.60 
 NZD 6524.70  6363.70 
 CNY 1335.75  1311.45 
2010-09-03 16:02:02

ORI Reli

  Index
ORI 004 103,800
ORI 005 109,000
ORI 006 103,500

Sukuk Ritel

  Index
SR001 109,500
SR002 102,700

Reksadana

  Index
REF 1,540,78



reliance ksei kpei idx bappepam
2010-09-03 16:45:01 AALI 20,150 50 (0.25 %) | ABBA 92 -1 (-1.08 %) | ACES 1,770 -10 (-0.56 %) | ADES 670 -10 (-1.47 %) | ADHI 720 -10 (-1.37 %) | ADMF 10,000 100 (1.01 %) | ADMG 165 0 (0.00 %) | ADRO 1,840 50 (2.79 %) | AGRO 183 0 (0.00 %) | AGRO-W 53 -1 (-1.85 %) | AHAP 105 0 (0.00 %) | AISA 610 -10 (-1.61 %) | AKPI 1,100 0 (0.00 %) | AKRA 1,260 30 (2.44 %) | AKSI 118 1 (0.85 %) | AMAG 127 3 (2.42 %) | AMAG-W 20 2 (11.11 %) | AMFG 4,775 150 (3.24 %) | AMRT 1,160 220 (23.40 %) | ANTA 215 0 (0.00 %) | ANTM 2,100 0 (0.00 %) | APLI 80 0 (0.00 %) | APOL 121 1 (0.83 %) | ARNA 305 -5 (-1.61 %) | ARTI 295 5 (1.72 %) | ASGR 460 0 (0.00 %) | ASIA 111 0 (0.00 %) | ASII 50,000 -50 (-0.10 %) | ASRI 188 -4 (-2.08 %) | ATPK 152 -1 (-0.65 %) | AUTO 17,400 150 (0.87 %) | BACA 76 -9 (-10.59 %) | BAPA 197 -1 (-0.51 %) | BAPA-W 25 1 (4.17 %) | BAYU 210 0 (0.00 %) | BBCA 6,000 100 (1.69 %) | BBKP 690 0 (0.00 %) | BBNI 3,500 125 (3.70 %) | BBRI 9,500 0 (0.00 %) | BBTN 1,820 -20 (-1.09 %) | BCIP 250 5 (2.04 %) | BDMN 5,250 -50 (-0.94 %) | BEKS 99 -1 (-1.00 %) | BFIN 2,350 0 (0.00 %) | BHIT 118 15 (14.56 %) | BIPI 105 3 (2.94 %) | BIPI-W 33 1 (3.13 %) | BISI 1,990 120 (6.42 %) | BJBR 1,340 20 (1.52 %) | BKDP 102 -2 (-1.92 %) | BKSL 104 1 (0.97 %) | BKSW 840 40 (5.00 %) | BLTA 240 5 (2.13 %) | BMRI 6,050 150 (2.54 %) | BMTR 320 0 (0.00 %) | BNBA 121 0 (0.00 %) | BNBR 50 0 (0.00 %) | BNBR-W 6 1 (20.00 %) | BNGA 1,170 -20 (-1.68 %) | BNII 295 0 (0.00 %) | BNLI 1,670 70 (4.38 %) | BPFI 161 0 (0.00 %) | BRAU 435 -5 (-1.14 %) | BRNA 980 -10 (-1.01 %) | BRPT 1,080 0 (0.00 %) | BSDE 810 0 (0.00 %) | BTEK 590 -10 (-1.67 %) | BTEL 178 5 (2.89 %) | BTON 300 -5 (-1.64 %) | BTPN 10,200 0 (0.00 %) | BUDI 220 -5 (-2.22 %) | BUMI 1,690 0 (0.00 %) | BUVA 395 -10 (-2.47 %) | BVIC 129 3 (2.38 %) | BWPT 830 10 (1.22 %) | BYAN 8,950 150 (1.70 %) | CEKA 1,160 70 (6.42 %) | CFIN 315 0 (0.00 %) | CKRA 93 -1 (-1.06 %) | CLPI 480 -20 (-4.00 %) | CMNP 900 0 (0.00 %) | CNKO 154 0 (0.00 %) | COWL 97 2 (2.11 %) | COWL-W 12 0 (0.00 %) | CPIN 6,300 0 (0.00 %) | CSAP 85 2 (2.41 %) | CTRA 335 5 (1.52 %) | CTRP 310 0 (0.00 %) | CTRS 590 10 (1.72 %) | CTTH 69 0 (0.00 %) | DART 158 0 (0.00 %) | DAVO 75 -1 (-1.32 %) | DEWA 60 0 (0.00 %) | DEWA-W 1 0 (0.00 %) | DGIK 82 0 (0.00 %) | DILD 480 -30 (-5.88 %) | DILD-W 74 7 (10.45 %) | DOID 770 -20 (-2.53 %) | DSFI 50 0 (0.00 %) | DSSA 7,600 50 (0.66 %) | DVLA 1,640 10 (0.61 %) | EKAD 215 -5 (-2.27 %) | ELSA 295 0 (0.00 %) | ELTY 115 1 (0.88 %) | EMTK 890 130 (17.11 %) | ENRG 88 0 (0.00 %) | ENRG-W 25 1 (4.17 %) | EPMT 970 20 (2.11 %) | ETWA 198 -2 (-1.00 %) | EXCL 4,975 -25 (-0.50 %) | FASW 2,450 50 (2.08 %) | FISH 730 -20 (-2.67 %) | FORU 97 -4 (-3.96 %) | FPNI 124 3 (2.48 %) | FREN 50 0 (0.00 %) | GDST 110 2 (1.85 %) | GEMA 260 5 (1.96 %) | GGRM 48,000 4,550 (10.47 %) | GJTL 1,760 10 (0.57 %) | GOLD 450 0 (0.00 %) | GPRA 105 -2 (-1.87 %) | GPRA-W 1 -1 (-50.00 %) | GREN 235 5 (2.17 %) | GREN-W 35 0 (0.00 %) | GSMF 88 0 (0.00 %) | GTBO 56 -6 (-9.68 %) | GZCO 365 5 (1.39 %) | HEXA 5,150 -50 (-0.96 %) | HMSP 21,250 800 (3.91 %) | IDKM 420 35 (9.09 %) | IGAR 180 0 (0.00 %) | IKAI 131 -1 (-0.76 %) | IMAS 7,100 1,150 (19.33 %) | INAF 82 -1 (-1.20 %) | INAI 260 0 (0.00 %) | INCI 210 5 (2.44 %) | INCO 4,175 -25 (-0.60 %) | INDF 4,550 75 (1.68 %) | INDR 620 -80 (-11.43 %) | INDY 3,225 25 (0.78 %) | INKP 2,150 50 (2.38 %) | INPC 63 1 (1.61 %) | INRU 475 -55 (-10.38 %) | INTA 1,470 30 (2.08 %) | INTP 19,050 400 (2.14 %) | INVS 3,000 0 (0.00 %) | INVS-W 1,400 -50 (-3.45 %) | IPOL 198 3 (1.54 %) | IPOL-W 39 0 (0.00 %) | ISAT 4,900 325 (7.10 %) | ITMG 38,000 900 (2.43 %) | ITTG 117 -2 (-1.68 %) | JECC 570 0 (0.00 %) | JPFA 2,850 50 (1.79 %) | JPRS 400 5 (1.27 %) | JSMR 3,050 50 (1.67 %) | KAEF 128 1 (0.79 %) | KARK 92 1 (1.10 %) | KBLI 63 -1 (-1.56 %) | KBLV 410 0 (0.00 %) | KBRI 50 0 (0.00 %) | KBRI-W 6 0 (0.00 %) | KIAS 79 0 (0.00 %) | KIJA 122 7 (6.09 %) | KKGI 860 10 (1.18 %) | KLBF 2,375 25 (1.06 %) | KOIN 115 9 (8.49 %) | KOIN-W 20 2 (11.11 %) | KREN 465 5 (1.09 %) | LAMI 158 17 (12.06 %) | LMPI 285 0 (0.00 %) | LPCK 260 5 (1.96 %) | LPGI 740 -20 (-2.63 %) | LPKR 500 0 (0.00 %) | LPLI 215 0 (0.00 %) | LPPS 50 0 (0.00 %) | LSIP 9,350 50 (0.54 %) | LTLS 750 0 (0.00 %) | MAPI 1,470 90 (6.52 %) | MASA 270 -5 (-1.82 %) | MCOR 168 -1 (-0.59 %) | MDLN 220 0 (0.00 %) | MDRN 1,210 10 (0.83 %) | MEDC 3,050 0 (0.00 %) | MEGA 3,050 75 (2.52 %) | META 150 3 (2.04 %) | META-W 62 -1 (-1.59 %) | MFIN 440 35 (8.64 %) | MICE 355 5 (1.43 %) | MIRA 270 0 (0.00 %) | MITI 52 -1 (-1.89 %) | MLPL 97 2 (2.11 %) | MLPL-W 15 0 (0.00 %) | MNCN 285 0 (0.00 %) | MPPA 930 30 (3.33 %) | MRAT 450 -5 (-1.10 %) | MTDL 96 1 (1.05 %) | MTFN 750 -30 (-3.85 %) | MYOR 10,400 -150 (-1.42 %) | MYRX 79 1 (1.28 %) | MYRXP 62 0 (0.00 %) | MYTX 67 1 (1.52 %) | NIKL 310 0 (0.00 %) | OCAP 400 -60 (-13.04 %) | OKAS 355 -5 (-1.39 %) | PANS 750 -20 (-2.60 %) | PBRX 780 -10 (-1.27 %) | PGAS 3,800 -100 (-2.56 %) | PJAA 650 10 (1.56 %) | PKPK 193 1 (0.52 %) | PLAS 970 30 (3.19 %) | PNBN 1,100 10 (0.92 %) | PNIN 430 5 (1.18 %) | PNLF 168 -1 (-0.59 %) | POLY 121 3 (2.54 %) | PRAS 95 -1 (-1.04 %) | PTBA 18,150 400 (2.25 %) | PTPP 820 10 (1.23 %) | PTSN 66 -1 (-1.49 %) | PUDP 315 0 (0.00 %) | PWON 830 0 (0.00 %) | PYFA 103 2 (1.98 %) | RAJA 780 10 (1.30 %) | RALS 860 10 (1.18 %) | RBMS 73 0 (0.00 %) | RICY 170 0 (0.00 %) | RIGS 700 0 (0.00 %) | RIMO 54 1 (1.89 %) | RMBA 510 -10 (-1.92 %) | RODA 50 0 (0.00 %) | ROTI 2,150 125 (6.17 %) | SCMA 2,700 350 (14.89 %) | SDPC 86 -2 (-2.27 %) | SDRA 270 0 (0.00 %) | SGRO 2,700 0 (0.00 %) | SHID 900 40 (4.65 %) | SIPD 53 0 (0.00 %) | SKLT 140 0 (0.00 %) | SKYB 500 -20 (-3.85 %) | SMAR 3,450 0 (0.00 %) | SMCB 2,250 0 (0.00 %) | SMDR 3,650 50 (1.39 %) | SMGR 9,000 100 (1.12 %) | SMRA 970 10 (1.04 %) | SMSM 870 20 (2.35 %) | SOBI 2,325 0 (0.00 %) | SPMA 240 0 (0.00 %) | SQMI 179 -1 (-0.56 %) | SRSN 63 -1 (-1.56 %) | STTP 340 0 (0.00 %) | SULI 103 2 (1.98 %) | TBLA 370 5 (1.37 %) | TCID 7,250 -650 (-8.23 %) | TINS 2,400 -25 (-1.03 %) | TIRT 77 0 (0.00 %) | TKIM 3,800 450 (13.43 %) | TLKM 9,050 100 (1.12 %) | TMAS 165 10 (6.45 %) | TMPI 157 2 (1.29 %) | TMPI-W 50 2 (4.17 %) | TMPO 86 0 (0.00 %) | TOTL 225 0 (0.00 %) | TOWR 6,800 350 (5.43 %) | TPIA 2,650 150 (6.00 %) | TRAM 540 0 (0.00 %) | TRAM-W 380 0 (0.00 %) | TRIL 63 0 (0.00 %) | TRIM 111 4 (3.74 %) | TRST 197 6 (3.14 %) | TRUB 73 2 (2.82 %) | TSPC 1,550 90 (6.16 %) | TURI 690 20 (2.99 %) | ULTJ 750 30 (4.17 %) | UNIT 128 -8 (-5.88 %) | UNSP 275 0 (0.00 %) | UNTR 18,950 100 (0.53 %) | UNVR 16,250 250 (1.56 %) | VRNA 89 -1 (-1.11 %) | WEHA 157 0 (0.00 %) | WIKA 600 10 (1.69 %) | WOMF 415 -5 (-1.19 %) | YPAS 600 20 (3.45 %) |