Market Review & Forecast
EQUITY MARKET:
Minggu lalu, pasar saham di dunia melemah di picu oleh kecemasan atas proses perbaikan ekonomi AS yang sudah mulai kehilangan momentum dan ketidakpastian dari lolosnya UU Reformasi Sektor Keuangan di Senat AS.
Indeks MSCI World turun 42.9 poin (-0.15%) ke level 1,089.9, indeks MSCI Emerging Market turun 2.93 poin (-0.31%) ke level 948.9 dan indeks MSCI Asia Pasifik tidak berubah atau masih di level 116.
FTSE100 bertambah 25.9 poin (-0.50%) dari 5,132.9 menjadi 5,158.8 terutama setelah BP berhasil untuk sementara menghentikan tumpahan minyak. Sebaliknya CAC40 turun 1.53% ke level 3,500 dari 3,554.5. Minggu ini FTSE cenderung bergerak melemah dan berada dalam trading range 5,065 -5,203.
Nikkei225 tergelincir 176.9 poin (-1.85%) ke level 9,408 dari 9,585.3 seiring dengan menguatnya nilai tukar JPY. Minggu ini Nikkei225 masih berpotensi melemah karena JPY yang masih berpotensi menguat dan berada di kisaran 9,290 – 9,630.
IHSG minggu lalu di tutup pada level 2,992 yang merupakan rekor tertinggi baru. Indeks saham Blue Chips LQ45 naik 11.14 poin (1.95%) dari 569.9 menjadi 581.
Kenaikan indeks di motori oleh kenaikan harga saham saham pada sektor Aneka Industri (4.86%) di susul oleh sektor Infrastruktur (3.31%) dan Keuangan (2.95%). Kondisi global yang sedang suram bisa menjadi faktor penghalang bagi IHSG untuk menembus level psikologis 3,000. IHSG kami perkirakan akan bergerak turun dan berada di kisaran 2,929 -2,980.
Indeks saham utama di Wall Street minggu lalu berguguran di picu oleh melemahnya sejumlah indikator ekonomi seperti indeks sentimen konsumen, Industrial Production dan penjualan ritel (retail sales).
Hampir berada di bawah level psikologis 10,000, DJIA terjatuh 100 poin (-1.0%) pada level 10,097.9 sementara NASDAQ mundur teratur 17.4 poin (-0.8%) ke level 2,179. S&P500 di tutup berkurang 13.08 poin (-1.2%) ke level 1,064.9 dari 1,078. Nilai indeks volatilitas VIX yang di gunakan untuk mengukur rasa takut (fear) investor, melonjak ke level 26.25 dari 24.98 pada minggu sebelumnya.
Minggu ini investor masih akan di banjiri oleh laporan keuangan emiten. Dari sisi ekonomi, indikator pasar perumahan akan mendominasi data yang di rilis minggu ini (tabel 1). Pasar perumahan AS di perkirakan mengalami kemunduran pada bulan Juni karena ekspansi pasar yang di wakili oleh Housing Starts dan Building Permits di yakini berkurang.
Selain itu, pembelian rumah yang sudah terlebih dahulu berdiri (Existing Home Sale) di duga akan turun semakin dalam setelah berakhirnya program insentif Tax Credit tanggal 30 Juni yang lalu. DJIA minggu ini kami prediksi masih akan melanjutkan pelemahan dan menguji garis support 10,000 dan berada di kisaran 10,005 – 10,145.
GOLD:
Harga kontrak berjangka emas untuk bulan Agustus 2010 turun 1.79% dari $1,209.8 per troy ounce menjadi $1,188.2 per troy ounce seiring reboundnya nilai tukar EUR terhadap USD. Selama ini kenaikan harga emas di topang oleh kecemasan atas kondisi ekonomi global dan ketakutan meluasnya krisis hutang di Eropa.
Data COT CFTC menunjukkan bahwa jumlah Open Interest (OI) turun dari 787,211 kontrak menjadi 777,861 kontrak. Jumlah OI mulai turun sejak minggu yang berakhir tanggal 18 Juni 2010 yang kebetulan merupakan hari dimana harga emas mencatatkan rekor tertingginya, $1,258.3 per troy ounce. Namun Net Long Position dari spekulator tidak berubah banyak, bahkan cenderung naik dari 231,381 kontrak menjadi 231,972 kontrak.
Semua ini berarti bahwa walaupun ada aliran dana keluar dari pasar emas, namun investor yang menjual emas tidak memiliki banyak pilihan, instrumen keuangan atau pasar lain, untuk menempatkan dananya. Sehingga mereka masih akan memgang sejumlah besar kontrak emas untuk beberapa waktu ke depan. Harga emas minggu ini menurut perhitungan kami akan berada pada kisaran $1,182 - $1,212 per troy ounce.
CRUDE OIL:
Harga kontrak berjangka minyak mentah untuk bulan Agustus 2010 relaitif tidak berubah pada level $76/barel seiring dengan melemahnya beberapa indikator ekonomi yang meredupkan proyeksi permintaan atas minyak mentah dunia. Selain itu pelemahan nilai tukar USD terhadap sejumlah mata uang utama di dunia juga memberi support pada harga minyak sehingga tidak terjun bebas di bawah $72 per barel.
Data COT CFTC tanggal 13 Juli menunjukkan bahwa jumlah Open Interest (OI) turun tipis dari 2,64 juta kontrak menjadi 2,62 juta kontrak. Net Long Position dari Spekulator besar bertambah dari 89,977 kontrak menjadi 112,398 kontrak. Volume persediaan minyak mentah jenis Light Sweet di Cushing, Oklahoma pada tanggal 9 Juli terlihat mulai kembali menumpuk dan mencapai 36.1 juta barel, naik dari 35.8 juta barel.
Spread (selisih harga) antar kontrak berjangka Light Sweet dan Brent untuk bulan September melebar dari 85 sen menjadi 98 sen karena adanya potensi badai di laut Karibia yang dapat mengganggu operasi sejumlah kilang pengeboran minyak. Harga minyak minggu ini kami perkirakan akan berada di kisaran $74.50-$77.25 per barel.
COAL:
Harga batubara yang di kirim melalui pelabuhan Newcastle, Australia minggu lalu turun dari $97.06/MT menjadi $96.34/MT. Harga batubara yang di kirim lewat pelabuhan Richard Bay, Afrika Selatan relatif tidak berubah, masih di level $90,2/MT meskipun adanya aksi mogok kerja oleh buruh pelabuhan. Harga batubara yang di kirim lewat pelabuhan Newcastle minggu ini, menurut pandangan kami akan berada di kisaran $95-$98 per MT.
Sementara itu, Baltic Dry Index (BDI) yang di gunakan untuk memonitor permintaan terhadap bahan komoditas yang di kirim melalui jalur laut seperti batubara, minyak, gas dan baja minggu lalu anjlok 9.6% dari 1,902 menjadi 1,720.
TIN:
Harga kontrak berjangka 3 bulan Timah di LME minggun lalu naik tipis 0.57% dari $17,650/MT menjadi $17,750/MT seiring dengan meningkatnya jumlah Open Interest (chart 6) dan berkurangnya persediaan Timah pada sejumlah gudang yang berada di bawah monitor LME.
Meskipun volume persediaan (Inventory) Timah turun dari 16,475 ton menjadi 16,035 ton, jumlah rata rata Cancelled Warrants berkurang dari 8.56% menjadi 6.83% dari total persediaan. Minggu ini harga kontrak Timah masih berpeluang untuk naik dan berada di kisaran $17,550/MT - $18,100/MT.
NICKEL:
Harga kontrak berjangka 3 bulan Nickel di LME minggu lalu anjlok 2.82% dari $19,500/MT menjadi $18,950/MT akibat aksi profit taking setelah pada minggu sebelumnya harga kontrak berjangka 3 bulan Nickel melompat 3.72%.
Meskipun volume persediaan Nickel turun 1.32% dari 120,660 ton menjadi 119,070 ton, permintaan fisik terhadap Nickel tidak meningkat bahkan cenderung melemah.
Ini bisa dilihat dari jumlah rata rata Cancelled Warrants yang stabil pada 4.3% dari total persediaan Nickel. Persentase ini sedikit di bawah rata rata Cancelled warrants selama bulan Juli.
Lemahnya permintaan juga bisa di lihat dari selisih antara harga spot (cash) dengan harga kontrak dengan jangka waktu terpanjang (27 bulan) yang sedikit lebih lebar dari minggu sebelumnya.
CURRENCIES:
Dollar Index, yang di gunakan untuk memonitor nilai tukar USD terhadap 6 mata uang utama di dunia, minggu lalu turun dari level 83.95 ke level 82.49, terendah sejak 3 mei 2010 (chart 11) seiring mulai pudarnya momentum perbaikan ekonomi AS dan prospek The Fed mempertahankan suku bunga acuan yang super rendah untuk waktu yang lebih lama.
Nilai tukar USD terhadap JPY melemah ke level terendah untuk tahun ini dari 88.62 menjadi 86.57. JPY menjadi satu satunya pelarian bagi investor yang khawatir ekonomi AS mengalami double dip recession dan investor yang berusaha menghindari krisis hutang eropa. Pelarian ke JPY terefleksikan pada yield spread antara UST 2y dan JGB 2y yang menyempit menjadi 46 bps dari 48 bps.
Nilai tukar EUR terhadap USD menguat dari 1.2641 menjadi 1.2930. Sejumlah pihak berpendapat bahwa penguatan nilai tukar EUR terhadap USD terlalu cepat dan berlebihan sehingga akan sulit menembus level psikologis 1.31 dan rawan koreksi.
Nilai tukar USD terhadap IDR sedikit melemah dari 9,048 menjadi 9,042 seiring dengan masih derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia. Mengingat yield yang relatif lebih tinggi dari yang di tawarkan negara berkembang lain, kepemilakn asing atas SUN masih tercatat naik hingga tanggal 16 Juli 2010, dari Rp.166.93 triliun menjadi Rp.168.23 triliun. Minggu ini USD akan di perdagangkan pada kisaran 9,030-9,075.
Analyst : Jasa Adhi Mulya